BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 26 Oktober 2009

jepang berambisi bangun stasiun di bulan

Badan Antariksa Jepang (JAXA) berharap dapat membangun stasiun antariksa di Bulan pada 2030.


Tidak hanya AS yang berambisi mengeksplorasi Bulan. Jepang yang berharap dapat mengirimkan astronotnya ke permukaan Bulan pada 2020 berambisi membangun stasiun antariksa di sana pada 2030.

Keinginan tersebut dinyatakan Badan Antariksa Jepang (JAXA) pada sebuah simposium mengenai eksplorasi Bulan yang berlangsung di Tokyo minggu lalu. Target pengiriman astronot dan pembangun hunian di Bulan dilaporkan ketua program eksplorasi bulan dan planet JAXA Junichiro Kawaguchi.

Jadwal dan rencana pengiriman wahana ke luar angkasa dipresentasikan Kawaguchi merupakan bagian dari visi antariksa Negara Matahari Terbit dalam 20 tahun ke depan yang telah dikeluarkan sejak 2005. Salah satunya bentuk perwujudan visi yang sangat luas adalah pembangunan stasiun di Bulan.

JAXA akan memulai proyeknya tahun depan dengan meluncurkan sebuah satelit ke orbit Bulan. Program ini akan dilanjutkan dengan pengiriman tiga pesawat tanpa awak dalam 10 tahun ke depan untuk mengumpulkan sampel dan melakukan penelitian ilmiah. Saat stasiun antariksa di Bulan berhasil dibangun, rencananya akan dihuni beberapa astronot yang akan diganti setiap 6 bulan.

Keberanian Jepang menargetkan program ekplorasi angkasa setinggi itu cukup mengejutkan manajer Proyek Aurora Badan Antariksa Eropa (ESA) di Noordwijk, Belanda Bruno Gardini. Proyek Aurora sendiri bertujuan meneliti teknologi robotika yang mungkin berguna dalam misi ke Mars, namun ESA tidak merencanakan misi berawak ke Bulan.

"Untuk pergi ke Bulan dibutuhkan biaya yang sangat besar dan tidak ada pemerintah yang sanggup memenuhinya kecuali AS," ujarnya. Biaya yang dibutuhkan terlalu tinggi sehingga hanya dapat dipenuhi dengan kerja sama global.

Juru bicara JAXA Satoki Kurokawa mengatakan sampai sekarang belum diputuskan apakah Jepang akan membiayainya sendiri atau melibatkan kerja sama internasional. JAXA belum mempersiapkan anggaran yang dibutuhkan untuk proyek yang diperkirakan menghabiskan sekitar 26 miliar dollar AS. Namun, rencana tersebut banyak didukung para ilmuwan dan pakar antariksa Jepang agar benar-benar menjadi kenyataan.

"Kerja sama unilateral (lintas negara) untuk membangun hunian di Bulan belum dipertimbangkan sejauh ini," kata Louis Friedman dari Planetary Society Pasadena, California. Ia tidak yakin setiap negara membangun hunian sendiri di Bulan. Lagipula, lanjut Friedman, Bulan tidak seperti Antartika di mana masing-masing negara yang mampu secara finansial dan memiliki kepentingan politik membangun hunian sendiri untuk kepentingan penelitian.

Sedangkan NASA yang berencana mengirimkan astronot ke Bulan menetapkan programnya sendiri tanpa tergantung negara lainnya. "Tingkat komitmen Jepang tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan AS," ujar salah seorang eksekutif JAXA yang menolak disebut namanya.