BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 26 Oktober 2009

jepang berambisi bangun stasiun di bulan

Badan Antariksa Jepang (JAXA) berharap dapat membangun stasiun antariksa di Bulan pada 2030.


Tidak hanya AS yang berambisi mengeksplorasi Bulan. Jepang yang berharap dapat mengirimkan astronotnya ke permukaan Bulan pada 2020 berambisi membangun stasiun antariksa di sana pada 2030.

Keinginan tersebut dinyatakan Badan Antariksa Jepang (JAXA) pada sebuah simposium mengenai eksplorasi Bulan yang berlangsung di Tokyo minggu lalu. Target pengiriman astronot dan pembangun hunian di Bulan dilaporkan ketua program eksplorasi bulan dan planet JAXA Junichiro Kawaguchi.

Jadwal dan rencana pengiriman wahana ke luar angkasa dipresentasikan Kawaguchi merupakan bagian dari visi antariksa Negara Matahari Terbit dalam 20 tahun ke depan yang telah dikeluarkan sejak 2005. Salah satunya bentuk perwujudan visi yang sangat luas adalah pembangunan stasiun di Bulan.

JAXA akan memulai proyeknya tahun depan dengan meluncurkan sebuah satelit ke orbit Bulan. Program ini akan dilanjutkan dengan pengiriman tiga pesawat tanpa awak dalam 10 tahun ke depan untuk mengumpulkan sampel dan melakukan penelitian ilmiah. Saat stasiun antariksa di Bulan berhasil dibangun, rencananya akan dihuni beberapa astronot yang akan diganti setiap 6 bulan.

Keberanian Jepang menargetkan program ekplorasi angkasa setinggi itu cukup mengejutkan manajer Proyek Aurora Badan Antariksa Eropa (ESA) di Noordwijk, Belanda Bruno Gardini. Proyek Aurora sendiri bertujuan meneliti teknologi robotika yang mungkin berguna dalam misi ke Mars, namun ESA tidak merencanakan misi berawak ke Bulan.

"Untuk pergi ke Bulan dibutuhkan biaya yang sangat besar dan tidak ada pemerintah yang sanggup memenuhinya kecuali AS," ujarnya. Biaya yang dibutuhkan terlalu tinggi sehingga hanya dapat dipenuhi dengan kerja sama global.

Juru bicara JAXA Satoki Kurokawa mengatakan sampai sekarang belum diputuskan apakah Jepang akan membiayainya sendiri atau melibatkan kerja sama internasional. JAXA belum mempersiapkan anggaran yang dibutuhkan untuk proyek yang diperkirakan menghabiskan sekitar 26 miliar dollar AS. Namun, rencana tersebut banyak didukung para ilmuwan dan pakar antariksa Jepang agar benar-benar menjadi kenyataan.

"Kerja sama unilateral (lintas negara) untuk membangun hunian di Bulan belum dipertimbangkan sejauh ini," kata Louis Friedman dari Planetary Society Pasadena, California. Ia tidak yakin setiap negara membangun hunian sendiri di Bulan. Lagipula, lanjut Friedman, Bulan tidak seperti Antartika di mana masing-masing negara yang mampu secara finansial dan memiliki kepentingan politik membangun hunian sendiri untuk kepentingan penelitian.

Sedangkan NASA yang berencana mengirimkan astronot ke Bulan menetapkan programnya sendiri tanpa tergantung negara lainnya. "Tingkat komitmen Jepang tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan AS," ujar salah seorang eksekutif JAXA yang menolak disebut namanya.

Senin, 15 Juni 2009

Kick Andy, Sabet Penghargaan Talkshow Terfavorit

JAKARTA--MI: Program acara Kick Andy yang tayang di Metro TV meraih penghargaan dalam ajang Panasonic Awards ke 12 yang digelar di XXI ballroom Jakarta Teater, Jumat (27/3) malam. Program yang dibawakan oleh Andy F Noya itu berhasil meraih penghargaan untuk kategori program talkshow terfavorit.

Acara penghagaan itu sendiri dihadiri ratusan artis dan insan pertelevisian. Termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu, dan beberapa pejabat pemerintahan lainnya.

Di kategori program talkshow terbaik itu, tayangan Kick Andy bersaing dengan beberapa program mata acara lainnya, yakni Debat (TV One), Topik Minggu Ini (SCTV), Apa Kabar Indonesia Malam (TV One), serta Cover Story (TV One).

Dalam penyelenggaraan ke 12, kali ini selain mengambil tema 'Mahakarya Anak Bangsa', Panasonic Award 2009 tidak lagi terpaku pada kualitas program dan rating saja, tetapi juga mengambil penilaian dari popularitas program televisi tersebut.

Panasonic Awards diselenggarakan sejak 1997, untuk memberikan penghargaan bagi program dan insan pertelevisian berdasarkan popularitas program.

Ukuran popularitas itu sendiri dilakukan AGB Nielsen Media Research, sebuah lembaga pemantau rating terhadap acara yang disiarkan berbagai televisi di Indonesia.

Selain AGB Nilesen, penyelenggaraan Panasonic Awards juga dilengkapi dengan tim verifikasi, yang bertugas memilah-milah dan memasukkan program sesuai kategori penghargaan.

Tim verifikasi beranggotakan Wisnutama dari Trans TV, Yeni P. Anshar dan Rosiana Silalahi (SCTV), Nana Putra (TPI), Manoj Punjabi (MD Entertainment), Irfan Ramli (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), Idi Subandi (Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi UI dan pemerhati budaya), dan aktor Anjasmara.

Tim tersebut akan menentukan lima program teratas dalam setiap kategori sebagai nominasi, yang kemudian diumumkan kepada masyarakat untuk kepentingan polling. Tabulasi hasil polling dilakukan oleh Auditor Independent, dalam hal ini dipercayakan kepada BDO Tanubrata. (Eri/OL-03)

10 Program TV Terfavorit

Tidak bisa dipungkiri acara televisi merupakan sarana termurah untuk mendapatkan hiburan dan informasi. Karena sejak di hapusnya pajak siaran televisi otomatis pemirsa tidak perlu membayar apapun jika hendak menikmati siaran televisi. Perubahan program acara televisipun berganti sesuai keinginan pemirsa, pernah sekali waktu ada jamannya telenovela, dilanjutkan dengan era film india, sinetron ABG dengan sistem kejar tayang, reality show bertema cinta ataupun horor dan yang tidak ada habis habisnya berita dari acara infotainment.

Sayapun coba mendaftar apa saja yang menjadi acara televisi favorit dan berdasarkan hasil dari lembaga tidak terpercaya "david niellsen" inilah urutannya:
METRO SPORT - Metro TV, setiap hari - pukul 11 malam

Walaupun kegiatan olah raga yang saya lakukan jauh berkurang secara kualitas dan kuantitas namun dengan menonton acara ini seperti membangkitkan semangat untuk berolah raga kembali secara rutin dan yang terpenting saya tidak ketinggalan informasi sepakbola liga inggris.
Empat Mata - Trans 7 , senin - Jumat pukul 9.30 malam

Walaupun intensitas frekwensi menontonnya tidak seperti dulu namun saya harus akui acara ini masih memiliki daya pikat terutama dari segi "kekonyolan" yang terkadang tidak berarti namun dapat membuat saya tertawa. Ditambah dengan konsep kreatif yang selalu dijaga sebagai contoh dalam minggu ini saja selalu ada band yang tidak hanya menjadi bintang tamu tapi juga membawakan beberapa lagu (biaya tambahan untuk band agar dapat menjaga rating? Maybe yes maybe no)
Bioskop Trans Tv - Trans Tv, setiap hari - pukul 9 malam / 11 malam

Film yang ditayangkan bervariasi dan juga bertema setiap minggu / bulannya dan jam tayang yang sangat tepat. Box office at my home.
Headline News - Metro TV, setiap jam / hari nya

Singkat, padat dan aktual
Reportase - Trans TV, setiap hari: pagi, sore, malam

Walaupun news anchor yang terbilang "ngetop" berada distasiun stasiun TV lain, namun penayangan berita dari reportase cukup berbeda. Narasi, pengambilan gambar, keadaan studio sampai wardrobe tidak terkesan "kuno" dan benar benar berbeda menurut saya.
OPRAH - Metro TV, setiap hari - pukul 10 pagi

Walaupun agak sulit untuk menonton acara ini karena jam tayangnya tapi sangat saya butuhkan karena informasi yang disajikan beragam dan bisa menambah wawasan.
Supermama seleb show / concert - INDOSIAR, Selasa, Rabu dan Kamis: pukul 6 - 12 malam

Cukup menarik karena persertanya yang selebriti tapi bukan penyanyi namun kualitasnya tidak kalah juga dari penyanyi asli. Walaupun masih bisa di rekayasa namun sistem penilaian yang tidak menggunakan sms voting melainkan dengan 100 orang juri vote lock lebih masuk akal dan tidak memberi kesan bahwa acara ini hanya ingin menguras pulsa pemirsa.
Insert siang - Trans TV, setiap hari - pukul.11 siang

Agak sulit juga menonton acara ini karena jam tayangnya. Dan dibandingkan dengan 2 versi yang pagi ataupun sore, insert siang memang beda walaupun isinya tidak berbeda dari acara infotainment lainnya. Adalah komentar host/hostess nya: terkadang lucu, melecehkan, bisa sopan atau bahkan tidak berarti sama sekali tapi menurut saya itulah kekuatan dari insert siang.
Hole in the wall - RCTI, setiap hari - pukul 16.30

Konsepnya terkesan informal karena host bisa membuat peraturan sesuka hati karena dia adalah "raja" yang harus dibuat senang. Ya memang acara ini bukan unggulan RCTI melihat slot iklannya masuk dalam rate card barter. Bagi saya acara ini tetap menarik karena "ringan" dan bisa membuat tertawa.
Snap shot - Metro Tv, selasa - pkl. 19.30

Seperti halnya di wikimu.com kita bisa melihat hal hal aneh yang selama ini menjadi pelanggaran namun bisa jadi sah untuk dilakukan.

Harus diakui menonton acara televisi menjadi lebih mudah dengan adanya TV mobil ataupun HP yang bisa buat nonton acara televisi dengan atau tanpa pulsa. Dan walaupun sistem penggolongan penonton sudah ada tapi tetap saja hal itu masih menjadi hal yang sekadar "himbauan". Adalah kewajiban dari stasiun stasiun TV yang ada agar tetap memberikan sajian yang bukan hanya menghibur tapi dapat memberikan informasi dan menjadi panutan guna perkembangan bangsa ini. Dan juga kewajiban kita untuk memilih apa yang ingin kita tonton.

Apakah yang menjadi favorit anda?

Reality Show Yang 'Improved' Di Layar Kaca

Jika kita amati tayangan reality show di layar kaca Indonesia akhir-akhir ini khususnya reality show berjenis ajang pencarian bakat, akan ditemukan sebuah fenomena menarik. Bagaimana tidak karena tayangan ajang pencarian bakat ternyata memiliki durasi panjang, rata-rata 4 jam, bahkan pernah mencapai 6 jam. Tidak hanya itu, tayangan tersebut bukanlah merupakan acara taping (rekaman), tapi live (langsung) dari studio.

Seperti halnya program "Super Seleb Show" yang kini sedang tayang maupun "Supermama Seleb Show" yang baru saja usai di stasiun televisi Indosiar. Walau durasi tayangnya sangat panjang dan bersifat live dari studio, program reality show Super Seleb Show dan Supermama Seleb Show yang merupakan pengembangan dari show sebelumnya yang juga sangat populer "Mama Mia", ternyata mampu meraih segmen pemirsa sangat banyak di Indonesia, jika bukan nomor satu seperti telah diindikasikan pada peringkat AGB Nielsen.

Harus diakui kesuksesan Mama Mia, Supermama Seleb Show, dan Super Seleb Show itu mampu menaikkan peringkat Indosiar yang beberapa waktu lalu sempat merosot ke titik rendah, kembali ke jajaran lima besar stasiun televisi Indonesia karena kejelian stasiun televisi tersebut dalam menangkap tren reality show pencari bakat sedang booming di Indonesia. Namun semuanya belum menjelaskan bagaimana tayangan live reality show tersebut dari studio Indosiar yang durasinya berjam-jam itu mampu memaku para pemirsa untuk tetap bertahan menyaksikannya.

Memang kesuksesan reality show pencarian bakat itu tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang ingin mengidolakan maupun menjadi idola seperti pernah dikatakan oleh Alfathri Adlin, pemerhati masalah budaya dari ITB dan juga karena adanya globalisasi budaya khususnya pop culture (budaya populer) yang melanda dunia termasuk Indonesia. Globalisasi pop culture itu terjadi berkat kemajuan teknologi komunikasi yang bermula sejak abad ke-20 seperti radio, televisi hingga internet. Begitu banyak pengertian tentang pop culture namun secara sederhana dapat didefinisikan sebagai budaya komersial yang disukai, diproduksi secara massa dan diikuti oleh massa pula.

Munculnya pop culture itu tidak bisa dihindarkan lantaran adanya perubahan sosial yang dihasilkan kemajuan industri. Perkenalan masyarakat industri dan pergeseran pola hidup modern tersebut menjadi bagian budaya jam kerja dan waktu libur seperti yang dikemukakan Bimo Nugroho, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam artikelnya "Menjamu Industri Popularitas 2005" di situs Jurnal.net, menimbulkan sebuah akibat yaitu adanya peluang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hiburan. Sebagaimana diketahui salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah hiburan.

Dengan perkembangan zaman, hiburan yang didapatkan mulai dari pertunjukan budaya seperti teater atau tarian sampai dietmukan teknologi komunikasi yaitu radio dan televisi, bahkan internet dapat menampilkan hiburan yang dibutuhkan dengan segala kemudahannya dan dapat dinikmati secara personal. Kini dengan pesatnya perkembangan hiburan, maka segala macam produk hiburan sekarang lebih mudah didapatkan. Di sinilah para pemilik modal terutama di industri hiburan akan melakukan segala upaya agar hiburan yang ditawarkan mereka digemari masyarakat.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa produk tayangan reality show di televisi sebagai salah satu ekspresi pop culture yang sengaja dirancang industri hiburan agar dapat memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat di dunia ini termasuk Indonesia karena sifat reality show itu bisa mempengaruhi persepsi masyarakat pemirsa acara tersebut bahwa yang disaksikan itu bisa terjadi pada diri mereka. Seperti halnya beraneka ragam ajang pencarian bakat yang banyak bertebaran di televisi tidak hanya bisa menghibur namun juga dipersepsikan oleh masyarakat umum adalah sarana mudah menjadi artis atau idola walau dengan cara lebih instan. Sehingga kebutuhan mengidolakan dan menjadi idola pun bisa terpenuhi.

Nah, Indosiar ternyata telah mempelopori adanya fenomena tayangan acara ajang pencarian bakat yaitu AFI pada tahun 2001 yang lalu diikuti beberapa acara sejenis di stasiun televisi tersebut karena memiliki format reality show yang dikemas sedemikian rupa sehingga disukai masyarakat. Namun dalam perkembangannya, format tersebut ternyata lama kelamaan membuat masyarakat menjadi bosan. Menyadari perubahan selera masyarakat, maka tim produksi Indosiar pun mengemas ulang reality show pencarian bakat di Indosiar seperti yang terjadi pada Mama Mia atau Super Seleb Show.

Ternyata format baru acara-acara tersebut itu lebih menarik dan banyak improvisasi yang lebih segar sehingga sangat disukai masyarakat. Berdasarkan perspektif ilmu komunikasi massa, upaya yang dilakukan Indosiar dalam melakukan perubahan format reality show itu akan dicoba ditelaah dengan paradigma komunikasi massa yang diperkenalkan pakar komunikasi massa dan politik Harold D. Lasswell dari Amerika Serikat yaitu "who says what in which channel to whom with what effect." Memang terjadi simplifikasi jika hanya menggunakan paradigma Lasswell untuk menjelaskan yang dilakukan Indosiar itu, namun setidak-tidaknya dapat memberikan pemahaman sederhana.

Paradigma Lasswell yang pada dasarnya adalah sebuah bentuk model transmisi komunikasi itu memiliki lima unsur utama komunikasi massa. Unsur-unsur tersebut yakni 1. Who, 2. Says What, 3. Which Channel, 4. To Whom dan 5. What Effect. Lima unsur ini dalam model transmisi komunikasi Lasswell akan menunjukkan bagaimana besarnya pengaruh media massa bagi khalayak. Dengan efek yang ditimbulkan, media massa memiliki andil besar dalam membentuk karakter dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, dapat dijelaskan bagaimana transmisi pop culture yang dalam hal ini adalah reality show sebagaimana disebutkan di sini sehingga terbentuk persepsi masyarakat bahwa tidak hanya mendapatkan hiburan namun juga dapat menjadi bagian dari hiburan sendiri.

Unsur pertama paradigma Lasswell, Who yang dalam hal ini adalah komunikator. Dalam Mama Mia, Supermama Seleb Show dan Super Seleb Show, yang berperan sebagai komunikator adalah Eko Patrio, Ruben Onsu sebagai pemandu acara beserta para komentator Hetty Koes Endang, Ivan Gunavan, sederet artis lainnya yang didapuk menjadi komentator. Sebagai komunikator yang juga disebut sumber (source), mereka menyampaikan informasi (Say What) tentang peserta ajang bakat tersebut, seperti informasi siapa peserta (oleh Eko atau Ruben) serta kritik atau pujian oleh para komentator (Hetty, Gunawan) tentang penampilan peserta.

Ternyata unsur Who yaitu Eko, Ruben, Hetty, Ivan Gunawan terpilih sebagai komunikator karena mampu menawarkan keunikan tersendiri. Misalnya Eko atau Ruben sebagai pemandu acara membawa gaya 'ngocol' sehingga tidak hanya pemirsa namun juga peserta dan juri vote lock pun terhibur. Tidak seperti ketika pemandu acara lainnya yang hanya membawakan acara secara standar ala MC konvensional. Para komentator pun terbawa arus mengikuti gaya komedi Eko dan Ruben seperti Ivan tidak segan-segan mencandai peserta atau kru studio televisi yang sedang merekam. Selain komunikasi verbal, Eko dan kawan-kawannya juga tidak segan melakukan komunikasi non verbal seperti goyang tubuh, mendorong, memeluk dan sebagainya sehingga suasana makin menyenangkan dan cair.

Oleh karena itu dalam kaitan unsur kedua Say What, ternyata Eko dkk sebagai komunikator dengan gaya sebagaimana disebutkan di atas mampu menyampaikan segala informasi secara menarik dan lucu sehingga mudah diterima atau dicerna peserta, pemirsa maupun juri vote lock. Tentu saja sebagai unsur pertama dan kedua tidak akan efektif tanpa unsur ketiga, Which Channel yaitu adanya media yang sebagai penyampai pesan/informasi. Dalam hal ini adalah stasiun televisi yang menayangkan reality show tersebut. Dengan sebagai media komunikasi massa, televisi memiliki kemampuan yang sukarditandingi oleh media cetak karena dapat menyajikan segala hal tentang reality show tersebut dalam bentuk audio dan visual kepada para pemirsa yang bertindak sebagai unsur keempat, To Whom.

Indosiar sebagai unsur Which Channel selain kemampuannya yang lebih efektif karena merupakan media televisi, juga memilih jam tayang yang tepat. Yakni pada setelah jam kerja dimana sebagian besar penduduk Indonesia telah berada di rumah. Mereka yang sebagai unsur ke-empat To Whom, sebagaimana adalah bagian dari masyarakat modern (baca: masyarakat industri) biasanya akan membutuhkan hiburan untuk melepaskan kelelahan setelah seharian bekerja di luar rumah. Tidak hanya itu, Indosiar juga dapat memperkirakan bahwa jam tayang reality show Indosiar yang panjang diantara 4 hingga 6 jam (dari pukul 18.00 - 24.30), akan lebih memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat. Tayangan secara langsung atau live dari studio dipilih karena masyarakat pemirsa akan lebih terbawa suasana dan lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan acara tersebut secara 'real time'.

Sebagaimana disebutkan di atas, unsur keempat To Whom, mereka adalah pemirsa yang menyaksikan acara reality show di televisi rumah mereka. Dalam hal ini, mereka bertindak sebagai komunikan yang menerima pesan atau informasi yang disampaikan acara Indosiar tersebut. Para komunikan, tidak hanya menerima informasi atau pesan tentang siapa peserta dan lagu apa yang dinyanyikan peserta dan sebagainya, namun juga mendapatkan pesan bahwa siapapun bisa menjadi artis dunia hiburan, tidak terbatas hanya pada orang-orang tentu saja. Nah, agar memudahkan pemirsa menerima informasi maka apa yang disampaikan Eko dkk sebagai komunikator dibungkus secara komikal dan ringan. Maka pemirsa Indosiar sebagai komunikan tidak hanya menyerap informasi, namun dapat terhibur.

Di sinilah terjadi unsur kelima dan terakhir, What Effect. Para pemirsa sebagai komunikan akan terbentuk persepsinya bahwa mereka jika merasa punya bakat, akan bisa menjadi bagian dari dunia hiburan dengan mengikuti reality show ajang pencarian bakat. Dengan kata lain, para komunikan itu mendapatkan pesan bahwa semakin banyak jalan untuk menjadi idola dan semakin mudah. Pada dasarnya pembentukan persepsi yang disebutkan di atas adalah efek yang terjadi oleh tayangan-tayangan reality show pencarian bakat, namun juga memperlihatkan bahwa terjadinya pergeseran tata sosial masyarakat Indonesia yang tadinya agraris menuju ke masyarakat modern (baca: masyarakat industri) sehingga muncul kebutuhan akan segala bentuk hiburan.

Lantaran adanya pergeseran tata sosial masyarakat Indonesia, maka beragam bentuk hiburan yang sebagiannya tidak bisa dihindari berasal dari dunia Barat terutama pop culture (budaya pop) karena kemajuan teknologi komunikasi sehingga lebih mudah diterima masyarakat sekarang daripada ketika beberapa dekade lalu. Jangan lupa reality show yang ditayangkan Indosiar atau stasiun televisi Indonesia adalah adaptasi dari acara-acara sejenis dari Amerika atau Eropa. Oleh karena itu, dapat dikatakan melalui reality show itu, terjadi sebuah bentuk transmisi kebudayaan yang dalam hal ini adalah budaya pop yang kemudian diterima oleh masyarakat kita.

Berdasarkan paradigma Lasswell yang dibahas di atas ini, kita akan mendapatkan gambaran bagaimana reality show seperti Mama Mia, Supermama Seleb Show, Super Seleb Show hingga AFI Junior 2008 akan memiliki dampak bagi masyarakat Indonesia karena tidak hanya menghibur namun juga dapat berperan sebagai transmisi budaya khususnya budaya populer sehingga terjadinya bergesernya nilai, norma budaya masyarakat yang lama menjadi baru. Dalam hal ini adalah munculnya tren untuk menjadi artis secara instan atau dadakan melalui berbagai ajang bakat di televisi.

Selain itu juga terlihat bagaimana pergeseran norma budaya itu membuat masyarakat Indonesia makin membutuhkan hiburan yang beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Sehingga Indosiar sebagai produsen hiburan (media penyedia) harus melakukan improvisasi terhadap acara-acara unggulannya seperti Super Seleb Show dengan memperbanyak jam tayang dan menambahkan unsur komedi dalam acara tersebut demi memperluas segmen pemirsa di Indonesia di tengah persaingan sengit dengan stasiun-stasiun televisi saingannya. Dengan demikian Indosiar dapat memperkokoh posisinya sebagai salah satu media hiburan teratas di Indon

Serunya Dibalik Layar KCB

Ketika Cinta Bertasbih adalah novel ke enam karya Habiburrahman El Shirazy. Karya Shirazy sebelumnya yang berjudul Ayat-ayat Cinta, juga pernah diangkat ke layar lebar. Kali ini rumah produksi Sinemart dipercaya mengubah karya Shirazy berikutnya menjadi gambar bergerak.

Adalah seorang lelaki bernama Azzam, diperankan pendatang baru M. Cholidi. la seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Namun sejak ayahnya meninggal, ia harus menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya di Solo, Jawa Tengah. Untuk itu ia mulai berdagang bakso dan tempe di Kairo. Tak disangka, pekerjaan itu membawanya ke kalangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir. la pun berkenalan dengan Eliana, diperankan oleh Alice Norin, puteri sang duta besar. Dari situ kisah mulai bergulir.

Sejak Desember 2008 sampai Februari 2009 pengambilan gambar dilakukan di Kairo, Mesir. Mulai dari KBRI, Sungai Nil, sampai Universitas Al-Azhar yang selama ini melarang pengambilan gambar untuk maksud apapun. Mulai Maret 2009, pengambilan gambar dilakukan di Magelang, Jawa Tengah.

Untuk melihat langsung suasana syuting KCB, Minggu, 22 Maret lalu Sekar terbang ke Yogyakarta. Kami dijadwalkan bertemu para pemain dan sutradara keesokan harinya di suatu desa tak jauh dari situs Candi Mendut, Magelang.

Di sana rombongan bertemu dengan sutradara Chairul Umam, M. Cholidi, Meyda Safira, dan Niniek L Karim yang berperan sebagai Malikatun, ibunda Azzam. Ketika kami datang, rumah sederhana milik penduduk setempat itu, telah dipenuhi dengan peralatan film dan lampu-lampu besar.

Sekar bertemu Cholidi, si ganteng pemeran Azzam. Menurut Cholidi, berakting di Indonesia tantangannya lebih berat dari-pada di Kairo. "Waktu di Kairo tidak banyak pemain senior. Saya canggung, apalagi ketika bertemu Ibu Niniek," kata Cholidi menunjuk aktris senior Niniek L. Karim.

Lain hal bagi Meyda Safira. Tantangan terberatnya adalah bagaimana cara mempertahankan citra sebagai perempuan muslim yang baik setelah ia terkenal nanti. "Jika saya ditawari main (film) lagi, insya Allah saya akan memilih film yang tidak bertentangan gaya hidup saya sehari-hari," jelas gadis cantik berjilbab ini.

Bagaimana hasil kerja keras para bintang dan kru film ini? Saksikan 11 Juni 2009 di bioskop pilihan Anda. Jangan lupa, ajak suami, anak dan anggota keluarga lainnya.

RESENSI FILM CHUY....

'17 AGAIN', Kembali Menjadi Muda Tak Selalu Mengatasi Masalah
Pemain: Matthew Perry, Zac Efron, Leslie Mann, Thomas Lennon, Michelle Trachtenberg, Brian Doyle-Murray


Bagaimana jadinya bila Anda yang berusia tiga puluhan tiba-tiba saja kembali menjadi remaja berusia tujuh belas tahun dan harus berjuang mati-matian menyesuaikan diri dengan lingkungan yang telah banyak berubah. Itulah yang terjadi pada Mike O'Donnell (Zac Efron).
Ketika masih di SMA, Mike adalah seorang remaja dengan masa depan cemerlang. Mike adalah atlet sukses dan mendapat bea siswa untuk melanjutkan pendidikan ke universitas terkenal. Sayangnya, di saat yang sama, Scarlett (Leslie Mann) hamil dan Mike harus segera membuat keputusan besar.
Yakin bahwa hidupnya akan bahagia bersama Scarlett, Mike kemudian memutuskan untuk menikahi Scarlett dan meninggalkan semua yang bisa ia miliki saat itu. Dua puluh tahun kemudian, Mike mulai meragukan pilihan yang ia buat saat itu. Rumah tangganya mulai berantakan dan ia memilih tinggal bersama Ned Freedman (Thomas Lennon) teman baiknya.
Suatu hari, ketika Mike sedang berusaha menolong seorang pria yang akan bunuh diri, tiba-tiba saja Mike mendapati dirinya berubah menjadi dirinya ketika berusia tujuh belas tahun. Bingung dan tak tau harus berbuat apa, ia kemudian meminta bantuan Ned yang untungnya bisa menerima kejadian aneh ini.
Ned kemudian berpura-pura menjadi ayah Mike dan mendaftarkan Mike ke sebuah SMA. Kini Mike harus mulai beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Parahnya lagi, ia ternyata harus berada di satu sekolah dengan Maggie (Michelle Trachtenberg), putrinya.
Ide mengulang masa lalu memang selalu menjadi ide yang menarik. Bukan apa, hampir semua orang pasti punya penyesalan dan ingin mengulang saat ia membuat kesalahan dan memperbaikinya. Itu memang solusi yang selalu terbayang saat menghadapi masalah berat. Itu juga yang membuat banyak orang film yang mencoba menuangkan ide ini ke dalam bentuk film. Tak sedikit film bertema ini yang sudah diproduksi sampai-sampai ide ini jadi tak menarik lagi.
Dan sepertinya Burr Steers, sang sutradara, juga tak bisa lepas dari pakem cerita soal mengulang masa lalu ini. Memang ada pesan yang disampaikan namun rasanya sudah basi untuk diulang-ulang lagi. THE BUTTERFLY EFFECT sempat membuat pencerahan dalam genre yang satu ini tapi itupun tak bertahan lama karena saat dibuat sekuelnya, ide itu jadi tak menarik lagi.
17 AGAIN ini bisa disebut versi ringan dari film-film yang mengusung tema serupa. Malahan bisa dibilang, film ini hanya dibuat untuk 'mengekspos' Zac Efron yang bisa dipastikan bakal menyedot banyak pengunjung gedung bioskop. Akting para pemeran biasa-biasa saja sementara alur cerita juga tak terlalu menarik. Akhirnya, yang tertinggal hanyalah 100 menit hiburan yang tak membebani otak. (kpl/roc)

Menkominfo Tak Akan Batasi Tayangan TV

Menteri Komunikasi dan Informatika Prof Muh. Nuh DEA menegaskan, pemerintah tidak akan membatasi pemberitaan media apapun, termasuk tayangan televisi yang jauh dari kata mendidik yang akhir-akhir ini marak dan dikeluhkan oleh para orang tua.
"Pemerintah tidak akan membatasi tayangan televisi, tetapi isi dari sajian atau tayangan itu yang harus dikaji dan disoroti serta harus mencakup empat aspek penting bagi perkembangan masyarakat terutama anak-anak," katanya usai membuka Seminar Nasional dan "Training Of Trainer" (TOT) "Gerakan Melek Media Menuju Keluarga Sakinah" di Unmuh Malang, Minggu.
Menurut dia, empat aspek yang harus diterapkan oleh media, baik cetak maupun elektronik dalam menyampaikan informasinya adalah yang mengandung unsur pendidikan, pemberdayaan, pencerahan dan memperkuat basis nasionalisme.
Ia mengakui, dalam program penyiaran atau penyampaian informasi terutama yang berkaitan dengan media elektronik, sudah ada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan di daerah juga ada KPID serta lembaga agama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Oleh karena itu, lembaga-lembaga tersebut harus diefektifkan untuk meminimalisir dampak negatif sebuah tayangan.
Selain mengefektifkan lembaga-lembaga yang punya kewenangan seperti KPI (KPID), katanya, pemerintah juga mendorong berbagai pihak termasuk keluarga sebagai "information provider" bukan sebagai "customer".
Kalau ada yang bilang media televisi atau handphone (HP) itu jelek, kata mantan Rektor ITS itu, itu salah. Yang jelek itu bukan medianya (TV atau HP), tetapi isinya yang jelek dan harus diubah, agar tidak membentuk opini-opini negatif di kalangan masyarakat.
Ia mencontohkan, tayangan TV atau pemberitaan media yang terus menerus menonjolkan kondisi bangsa sedang krisis dan kritis akan membentuk opini masyarakat yang menakutkan, sehingga masyarakat panik dan tidak terkendali.
"Peran media ini sangat penting, sehingga kami (Kominfo) memberi garis dan rambu-rambu dengan empat aspek penting tersebut. Namun bukan berarti pemerintah ingin memberikan batasan informasi bagi media," katanya menegaskan.